PENYERTAAN TUHAN DI TENGAH PERGUMULAN
Roma 8 : 12 – 25 ; Matius 13 : 24 – 30, 36 – 43
Dalam natur setiap manusia ada dosa. Terlepas dari ada atau tidaknya “Mensrea” (niat jahat) dari dirinya. Cerdik tapi penipu atau pembohong, itulah Yakub. Dengan dukungan dan arahan ibunya, Ribka, dengan licik dia menyamar sebagai kakaknya, Esau. Membohongi ayahnya untuk mendapat berkat kesulungan. Sebagai akibatnya, ia harus melarikan diri dari rumah keluarganya, takut akan pembalasan dari kakaknya. Berapa pentingkah hak kesulungan? bagaimana dengan hukum, etika, atau budaya ? Berkat yang diterima Yakub sangat luar biasa dari hak kesulungan itu. Bukan saja hak atas tanah yang luas dan subur, harta berlimpah, tetapi juga akan menjadi bangsa yang besar dan utama, pewaris garis keturunan keluarga, bahkan pewarisan kerajaan Allah, sesuai janji berkat yang diterima kakeknya, Abraham dan ayahnya, Ishak. Yakub sangat menyadari dan menghargai akan hal itu, sebaliknya Esau yang bersedia melepaskannya dikarenakan hal yang sangat sepele, makanan!
Kisah ini dilanjutkan dengan perjalanan hidup Yakub di tanah pembuangannya, pelariannya, penderitaan dan pergumulannya di keluarga pamannya, Laban. Upah yang dijanjikan Laban tidak kunjung nyata, dengan sifat licik dan pembohong yang sama, Laban pamannya memperdayai, sepuluh tahun menjadi empat belas tahun ditambah enam tahun, total dua puluh tahun. Tapi akhirnya Yakub menyadari bahwa Allah yang dipuja Abraham dan Ishak sajalah yang memberikan keputusan-Nya. Begitu pula pergumulan dan ketakutannya pada kakaknya, Esau, ketika ia hendak kembali ke tanah leluhurnya. Di Betel, dengan dahsyat Yakub mendapatkan peneguhan janji Allah atas berkat kesulungan dari Allah. Sehingga ia akhirnya dapat berdamai dengan kakaknya. Perlu diingat, nasib Esau juga tidak menderita atau bahkan lenyap dari janji berkat Allah pada Abraham dan Ishak, walaupun ia dan keturunannya harus menjadi hamba adiknya, Yakub. (lihat ayat 40: “Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu”)
Dalam perjanjian Baru, melalui Yesus Kristus, dalam bacaan Roma 8: 12-25, Rasul Paulus mengingatkan kita, yang secara daging bukanlah anak sulung, namun jika menghargai hak kesulungan sebagai berkat Allah yang harus dijunjung dan dimuliakan melalui karya Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, yang telah membawa pendamaian, memberikan hak itu kepada kita, umat percaya, untuk memanggil-Nya “ya Abba, ya Bapa”, menjadi pewaris kerajaan Allah.
Terlebih, kita harus benar-benar memahami akan perkataan Yesus dalam Perumpamaan dalam Matius 13 ini. Benih gandum ditabur akan tumbuh bersama lalang yang ditabur oleh sang musuh. Penabur membiarkannya tumbuh bersama, Ia tahu akan hal itu, dan tidak mencabutnya saat tumbuh bersama karena bisa berakibat tercerabutnya juga benih baik yang ditabur-Nya, Ia tetap akan memelihara pertumbuhan benih gandum itu untuk tetap berbuah di tengah himpitan lalang liar. Namun saat panen tiba, penuai akan memilah gandum yang akan disimpan dalam lumbung sedangkan lalang akan dibuangnya untuk dimusnahkan pada perapian. Artinya, kebaikan akan dibiarkan hidup bersama dengan kejahatan.
Di dunia jaman ini, perubahan hukum dan etika, kemajuan peradaban, budaya buah pemikiran manusia dapat menjauhkan manusia dari keterikatannya dan keintimannya kepada Tuhan, Sang sumber berkat sejati. Namun, Tuhan tidak membiarkan pergumulan umat-Nya dalam menghadapi tantangan dan godaan dunia, Ia tahu dan Roh Kudus-Nya akan selalu hadir dan memelihara di tengah tantangan pergumulan umat-Nya. Janji berkat Allah tidak pernah meniadakan kerja keras. Penyertaan Tuhan tetap hadir di tengah upaya manusia dalam menaburkan kebaikan kepada dunia. Janji upah Laban kepada Yakub berubah-ubah, namun janji Allah selalu teguh, Ya dan Amin, melalui Yesus Kristus janji-Nya digenapi hingga keabadian, dimana kebaikan akan berbuahkan kebahagiaan kekal sebagai summun bonum, kegenapan semua janji Allah. Amin !
JHT